SINGKAWANG – Sebanyak 18 instansi dari Indonesia dan Malaysia dilibatkan dalam Ops Lintas Batas 2026 yang berlangsung di kawasan Aruk–Biawak dan sekitarnya. Operasi tersebut melibatkan 98 personel dan diprakarsai Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) bersama UPT KPH Wilayah Sambas.
Kolaborasi lintas negara ini diarahkan untuk memperkuat pengawasan kawasan hutan perbatasan sekaligus mencegah tindak kejahatan lingkungan.Salah satu sasaran perhatian adalah potensi penyelundupan satwa liar yang dilindungi.
Dalam operasi, personel gabungan melakukan patroli di kawasan hutan perbatasan Indonesia-Malaysia. Tim juga melakukan penyekatan dan pemeriksaan di sejumlah titik yang dianggap strategis.
Pengawasan tersebut dilakukan untuk mempersempit ruang gerak pelaku aktivitas ilegal.Selain patroli, koordinasi antarinstansi diperkuat melalui pertukaran informasi dan intelijen dari kedua negara. Informasi yang diperoleh diharapkan membantu pemetaan ancaman serta penegakan hukum. Ops Lintas Batas 2026 juga melibatkan masyarakat melalui program Kunjungan 1.000 Lokasi.
Program tersebut memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan melindungi satwa liar.Pemprov Kalbar menilai masyarakat kawasan perbatasan memiliki peran penting dalam membantu pengawasan kawasan hutan.Kolaborasi Indonesia-Malaysia ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan menjaga hutan dan keanekaragaman hayati Kalbar.






